Thursday, March 25, 2021

9 Penyakit Burung Lovebird yang Paling Umum Diderita

Must Read

Salah satu burung yang paling populer di Indonesia adalah burung Love bird. Burung yang sering disebut burung cinta ini disukai lantaran sangat jinak, menggemaskan, senang berkicau, dan aktif. Namun, ada kalanya burung menjadi sangat pendiam. Bisa jadi itu disebabkan oleh penyakit burung Lovebird. 

Sebagai makhluk hidup, tentu saja burung Lovebird juga pernah mengalami sakit. Namun, terkadang pemilik sulit untuk mendeteksi penyakit karena burung ini sangat pandai menyembunyikan kesakitannya. Padahal, bila tidak segera diatasi, kondisi buruk dapat semakin parah hingga berujung kematian 

Penyakit bLovebird pun sangat beraneka ragam. Ingin tahu apa saja penyakit yang paling umum diderita Lovebird? Simak penjelasannya sampai habis, ya!

1. Kegemukan

Ternyata, masalah kesehatan yang paling umum diderita burung Lovebird sama seperti manusia, yakni kegemukan. Masalah kesehatan yang satu ini disebabkan karena perilaku pemilik yang senang memberi makan secara berlebihan. Burung cinta ini sangat menyukai pakan biji-bijian, termasuk biji bunga matahari dan biji milet. 

Meskipun biji-bijian tergolong dalam makanan sehat, tapi biji-bijian mengandung banyak lemak. Selain menyebabkan kegemukan pada burung, mengonsumsi biji-bijian secara berlebihan juga dapat menyebabkan burung kekurangan kalsium dan vitamin A.

Meskipun terlihat sederhana, jika dibiarkan, kegemukan dapat memicu penyakit hati berlemak dan radang sendi. Untuk mengatasi kegemukan, pemilik dapat menambahkan makanan yang lebih kaya nutrisi, seperti apel, sayuran hijau, dan wortel. 

2. PBFD

Penyakit burung Lovebird yang paling umum selanjutnya adalah PBFD. Penyebab dari penyakit ini adalah infeksi circovirus yang mengakibatkan sel-sel pembentuk paruh dan bulu mati. Bila burung mengidap penyakit PBFD, potensi tertular penyakit lain akan semakin besar karena sistem kekebalan tubuhnya menurun. 

Gejala burung yang terkena PBFD adalah sebagai berikut : 

  • Kehilangan selera makan
  • Kerontokan pada bulu 
  • Paruh dan bulu mengalami kelainan
  • Diare

Bila burung sudah menunjukkan tanda-tanda PBFD, sebaiknya segera pisahkan dengan burung yang lainnya. Bila tidak diisolasi, penyakit ini dapat menyebar dengan cepat ke burung lain. Untuk mengobat penyakit ini, pemilik dapat memberikan vaksin khusus. 

3. Aspergillosis

Penyakit aspergillosis adalah suatu penyakit pada burung akibat infeksi jamur yang menyerang saluran pernapasan. Aspergillosis dapat masuk ke kantung udara dan paru-paru burung saat spora jamur mulai dihirup. Meskipun aspergillosis tidak dapat menular pada burung lain, tapi infeksi ini dapat menyebar ke organ burung yang lain. 

Penyakit mematikan ini disebabkan oleh kekurangan gizi, stres, kekurangan vitamin A, atau penggunaan obat antibiotik yang berkepanjangan. Tak hanya itu, kondisi kandang burung yang lembab dan kotor juga dapat menjadi pemicu aspergillosis. Selain menyerang burung Lovebird, penyakit ini juga sering ditemukan pionus, beo, dan berbagai burung lainnya. 

4. Polioma

Tak kalah mematikan dari ketiga penyakit yang sudah disebutkan sebelumnya, polio juga termasuk dalam salah satunya. Penyakit ini 

disebabkan oleh virus polyoma. Burung yang terinfeksi virus ini hampir sebagian organ tubuhnya akan diserang secara bersamaan. 

Penyakit ini sangat rentan dialami Lovebird yang masih berusia 0 hingga 56 hari. Untungnya, sangat jarang ditemukan kasus polyoma pada burung dewasa.

Burung yang terkena penyakit ini akan kehilangan nafsu makan, mudah lelah, muntah, sesak nafas, dehidrasi, diare, perut buncit, hingga mengalami kelumpuhan. Sebagai upaya pencegahan, pemilik dapat membersihkan kandang dengan menggunakan desinfektan untuk mematikan virus dan bakteri yang bersarang.

5. Bertelur Kronis

Penyakit burung Lovebird yang satu ini mungkin agak aneh dan jarang terdengar. Bertelur kronis merupakan suatu kondisi dimana burung Lovebird betina mengeluarkan telur yang lebih banyak daripada biasanya. 

Seperti yang kita ketahui, semua unggas memang membuat telur dengan mengambil kalsium dari badannya. Jika penyakit ini didiamkan terus menerus, maka burung akan kekurangan kalsium. Sayangnya, tidak ada cara yang dapat dilakukan untuk menghentikan penyakit ini. 

Pemilik hanya dapat membantu dan memastikan burung tetap hidup. Untuk mengganti kalsium yang hilang dari tubuh burung, pemilik dapat memberikan blok kalsium di air minum atau makanan. 

6. French Molt

Gejala penyakit french molt umumnya dapat dikenali sejak Lovebird berusia masih remaja. Burung yang mengidap penyakit ini akan kehilangan seluruh bulu ekor dan bulu sekundernya. Akibat perontokan bulu tersebut, burung tidak akan bisa terbang selama-lamanya karena bulu sayap Lovebird tidak akan kembali tumbuh. 

Kalaupun bulunya tumbuh lagi, maka tidak akan tumbuh dengan sempurna atau mengidap kelainan. Namun, bulu bagian perut burung yang mengidap penyakit ini tidak akan terpengaruh. Penyakit burung Lovebird ini tidak dapat disembuhkan dengan obat apapun.

Sebagai pemilik, berikan suplemen silika dan makanan khusus agar bulunya dapat kembali tumbuh sedikit demi sedikit. Karena burung tidak memiliki bulu, pastikan untuk menjaga suhu tubuhnya agar tetap hangat.

7. Infeksi Giardia

Infeksi Giardia juga menjadi salah satu penyakit burung Lovebird yang paling umum terjadi. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa yang hidup di dalam bagian usus burung. Karena berhubungan dengan usus, secara otomatis, penyakit ini akan berdampak pada sistem pencernaan. Protozoa akan mengganggu proses penyerapan nutrisi, vitamin, dan lemak. 

Bila mengidap penyakit ini, burung akan sangat rentan mengalami malnutrisi. Jika tidak ditangani sesegera mungkin, sistem kekebalan tubuh Lovebird akan menurun hingga kondisinya semakin memburuk. 

Burung yang mengidap penyakit ini akan kehilangan nafsu makan, diare kronis, serta kulit yang gatal dan kering. Sebaiknya, isolasi burung yang sakit dengan burung yang masih dalam keadaan sehat.

8. Penyakit Mata atau Snot

Ada juga penyakit lain yang sering dialami oleh burung. Penyakit ini adalah snot. Gejala snot sangat mudah diamati dan jelas terlihat. Burung penderita snot akan mengeluarkan cairan secara berlebihan dari matanya. Selain itu, burung juga akan menjadi pendiam dan tidak lincah. 

Snot terjadi akibat infeksi bakteri dan dipengaruhi oleh perubahan cuaca yang ekstrem. Pasalnya, pergantian cuaca yang ekstrim akan membuat kondisi burung tidak stabil. 

Penyakit ini dapat diatasi dengan berbagai cara, yakni :

  • Mengkarantina burung yang sakit karena penyakit ini termasuk dalam kategori penyakit menular
  • Jangan mandikan burung selama terserang snot. Namun, jemurlah burung secara teratur
  • Gunakan obat khusus snot yang banyak dijual di toko burung. Pemilik dapat membeli obat oles maupun obat tetes. 

Selama dalam masa pemulihan, disarankan untuk memberikan burung makanan yang sehat dan bernutrisi. Namun, jangan berikan pakan kangkung! Selain itu, ada baiknya bila pemilik membersihkan kandang dengan menggunakan rebusan daun sirih untuk memastikan tidak ada virus atau kuman penyakit dalam kandang.

9. Penyakit Nyilet

Kebalikan dari kegemukan, penyakit nyilet merupakan suatu kondisi dimana burung terlalu kurus. Burung yang mengidap penyakit ini akan mengalami penurunan berat badan dari hari ke hari. Semakin lama, burung akan terlihat sangat kurus hingga terlihat tulang dadanya. 

Penyakit ini umumnya disebabkan karena pemilik jarang memberi burung makan. Selain itu, nyilet juga dapat terjadi karena adanya jamur di dalam tubuh burung. Meskipun terlihat sederhana, penyakit ini tidak dapat dianggap remeh. Bila tidak ditangani dengan benar, burung memiliki potensi kematian sebesar 80 persen. 

Itulah 9 penyakit burung Lovebird yang paling umum diderita. Saat burung sedang sakit, pemilik harus segera memberikan pertolongan dan merawatnya dengan maksimal. Jika tidak, pemilik pun harus siap akan resiko kematian burung. Tentu saja pemilik tidak ingin melihat Lovebird kesayangannya terkulai tak berdaya, kan?

 

Latest Posts